Mas Ipin Bangga 1 Warganya Ikut Lomba Esai Internasional di Thailand
Trenggalek, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin undang Virginia Viradita Salsabil, warga Kelurahan Sumbergedong ke Pendopo Trenggalek, karena salah satu warganya bersama 3 temannya dari daerah lain berhasil lolos menjadi salah satu peserta lomba esai tingkat internasional di Thailand.
Saat ini Virginia Viradita mas Salsabil, perempuan yang seha hari dipanggil Sasa menempuh pendidikan S2 di Universitas Negeri Jogjakarta. Perempuan ini juga tengah melakukan Tesis di Trenggalek. Kemudian esai yang diangkat terkait dengan Smart Visual Bell System (SVBS), alat bantu bagi masyarakat dengan gangguan pendengaran. Ini sesuai dengan cita-cita Mas Bupati yang ingin pendidikan di daerahnya bisa inklusi.
Smart Visual Bell System dipilih karena perkembangan tekhnologi dibutuhkan di dunia pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri, lebih-lebih bagi anak berkebutuhan khusus sehingga pendidikan inklusif ini benar-benar bisa terwujud.
Tantangan pendidikan saat ini keterbatasan akses informasi berbasis audio bagi anak tuna rungu. Khusunya terkait dengan pergantian jam pelajaraan sekolah maupun instruksi sekolah berbasis suara. Berbekal permasalahan ini mahasiswa mahasiwa muda ini mencoba inovasi Smart Visual Bell System untuk mendorong kemandirian anak-anak tuna rungu.
Dengan berbekal inovasi intu, dalam waktu dekat Salsa dan ketiga temannya akan mengikuti Internasional Essay kompetisi 10th Faperta Fair (Futuristics and Prestige Research , Technology and Art) di Chiang Mai, Thailand.
Melakukan audiensi dengan Salsa Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin “saya senang Mbak Salsa punya kesempatan untuk mengaktualisasikan ilmunya sampai ke tingkat international. Beliau juga tengah menyusun Tesis yang salah satu obyek penelitian di Trenggalem,” katanya, Kamis (23/7/2026).
Kita sama-sama ingin pendidikan itu inklusi, imbuhnya “akan tetapi butuh waktu, butuh sumberdaya manusia juga. Harapannya riset-riset seperti ini, yang tertuang baik berupa Tesis atau data-data pendukung dalam esai nya beliau, pengalaman-pengalaman beliau, pasti nanti bermanfaat untuk menjadi masukan buat kita bagaimana nanti mempercepat terciptanya pendidikan inklusi di Kabupaten Trenggalek,” tambahnya.
Usai menemui Bupati Trenggalek Virginia menuturkan “hari ini kita bertemu Pak Bupati dalam rangka lomba di Thailand. Ikut lomba esai, salah satunya saya sebagai warga masyarakat Trenggalek. Saat ini saya sebagai mahasiswa S2 di Universitas Negeri Jogjakarta,” ucapnya.
Ada 4 orang, sama-sama dari Fakultas Pendidikan, imbuh Salsa. “Satu teman, sama satu jurusan dengan saya. Sedangkan yang 2 lainnya dari PAUD, namun 3 orang ini dari kota lain. 1 dari Lampung, 1 dari Pacitan dan 1 dari NTT. Esai kami tentang alat bantu teman-teman hambatan pendengaran dan ini nanti akan kami lombakan. Harapannya kami bisa membantu mengembangkan, karena masih prototype. Dan apabila sudah dikembangkan bisa dibantu coba. Baik di daerah teman-teman saya maupun di Trenggalek,” tandasnya
Bupati Arifin Sarankan Ikut Festival Gagasan
Melihat ide dan gagasan yang dilakukan Salsa dan teman-temannya, bila itu terbukti Bupati Trenggalek menyarankan gagasan dan ide ini bisa dibawa ke Festival gagasan Kabupaten Trenggalek.
Kebetulan Kabupaten Trenggalek mempunyai sebuah festival yang spesifik mewadahi gagasan-gagasan dari warga masyarakatnya.
Pemenang dari festival ini mendapatkan hadiah yang bisa dibuat untuk membiayai gagasan tersebut untuk bisa diwujudkan. “Setiap tahun kita sebenarnya ada festival gagasan. Kalau esainya terbukti, saya saranin Mbak Salsa bersama teman-teman bisa ikut festival gagasan.
Untuk gagasaan terbaik bisa dibiayai, kaya kemarin ada orang bikin Early Warning System, nyatanya kita biayai dan jadi. Sekarang dipasang di beberapa desa yang beresiko bencana,” imbuh Mas Ipin.
Tidak menutup kemungkinan kalau memang nanti secara prototype terbukti. Terus kemudian beliau yakin untuk bisa mengaplikasikan itu. “Silahkan saja di submit di festival gagasan,” tutupnya. (dy).







