
Jurnal PilarMedia| Alan Sidik
BIMA — pilarmedianusantara.com — Keterbatasan infrastruktur jalan di Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, mendorong masyarakat mengambil langkah secara swadaya. Sejumlah warga patungan menggunakan dana pribadi untuk melakukan pengaspalan di beberapa titik jalan yang dinilai membutuhkan penanganan, Senin (28/9/2026).
Aksi tersebut menjadi potret nyata semangat gotong royong masyarakat di tengah kebutuhan terhadap infrastruktur yang masih dirasakan. Warga secara bersama-sama mengumpulkan dana dan tenaga untuk memperbaiki bagian jalan yang dianggap penting bagi aktivitas sehari-hari.
Bagi masyarakat Lambitu, keberadaan jalan yang layak bukan sekadar menyangkut kenyamanan berkendara. Jalan menjadi akses vital untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mengangkut hasil pertanian, menuju sekolah dan fasilitas kesehatan, hingga menunjang mobilitas warga antardesa.
Karena itu, ketika kondisi jalan membutuhkan perbaikan, masyarakat memilih tidak hanya menunggu. Mereka berinisiatif melakukan perbaikan dengan kemampuan yang dimiliki.
Namun, aksi swadaya tersebut sekaligus memunculkan perhatian terhadap peran pemerintah daerah dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur di wilayah Lambitu.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga mendapat apresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan daerah. Di sisi lain, muncul pula kekhawatiran bahwa masyarakat harus mengeluarkan biaya sendiri untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar yang pada kondisi tertentu berada dalam ruang tanggung jawab pemerintah sesuai kewenangan dan kemampuan anggaran.
Sejumlah ungkapan kekecewaan warga, termasuk pernyataan tentang “matinya nurani pemerintah”, mencerminkan keresahan masyarakat terhadap kondisi jalan yang mereka hadapi. Pernyataan tersebut merupakan ekspresi kekecewaan warga sekaligus bentuk dorongan agar pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan infrastruktur di Lambitu.
Masyarakat berharap aksi swadaya yang dilakukan tidak hanya dipandang sebagai bentuk gotong royong, tetapi juga menjadi perhatian bagi pemerintah bahwa masih ada kebutuhan jalan yang dinilai mendesak.
Warga Lambitu menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti membangun. Dengan mengumpulkan dana dan tenaga secara bersama-sama, mereka berusaha menjaga akses yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Namun, masyarakat juga berharap kondisi tersebut tidak berlangsung terus-menerus. Mereka menginginkan kehadiran pemerintah melalui program pembangunan dan pemeliharaan jalan yang berkelanjutan, sehingga kebutuhan infrastruktur tidak selalu harus ditanggung dari kantong warga.
Gotong royong merupakan kekuatan masyarakat. Tetapi penyediaan infrastruktur yang layak juga membutuhkan perencanaan, penganggaran, dan intervensi pemerintah sesuai kewenangan yang dimiliki.


