Mbali Mbojo Mantoi: Ulama dan Tokoh Umat Woha Bahas Akar Penyakit Masyarakat dan Ancaman Terhadap NKRI

Jurnal Pilar | Fateh

Woha Bima Raya, Pilarmedianusantara.com – Forum ulama Indonesia (FUI) bima raya menggelar Mbolo to.i ulama ro Ama rasa SE kecamatan dengan tajuk “mbali Mbojo mantoi,”sebuah musyawarah strategis yang mempertemukan ulama dan tokoh umat Islam dalam merespons persoalan sosial -keagamaan dan tentang kebangsaan.kegiatan ini berlangsung di aula mesjid agung kec woha kab Bima NTB.dan di hadiri walik bupati bima, camat woha,serta sejumlah pejabat daerah lainya.

Forum ini menjadi dialektika ilmiah dan moral untuk membedah dua isu utama:akar penyakit masyarakat dan strategi pencegahan ,serta menjaga keutuhan NKRI dari ancaman internal dan eksternal.

Bacaan Lainnya

Mengurangi akar penyakit masyarakat

Dalam sesi pertama,para ulama dan tokoh masyarakat menyoroti meningknya problem sosial seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, kekerasan remaja, konflik sosial,hingga degradasi moral generasi mudah.

Secara ilmiah, persoalan tersebut di petakan sebagai akibat dari beberapa faktor utama:

1.disfungsi keluarga -lemahnya pendidikan karakter dan keteladanan di lingkungan rumah tangga.

2.minimnya literasi keagamaan dan sosial-kurangnya pemahaman agama yang komprehensif dan moderat.

3.tekanan ekonomi yang mendorong sebagai masyarakat terjebak pada praktik penyimpangan.

4.pengaruh media digital -arus informasi tanpa filter yang mempercepat penyebaran konten negatif dan radikalisme daring.

Para Narasumber menegaskan bahwa pencegahan harus dilakukan secara sistematis melalui pendekatan edukatif.preventif,dan kolaboratif.

Langkah langkah yang di rekomendasikan antara lain:

* Penguatan peran masjid sebagai pusat pendidikan moral dan sosial.

* Revitalisasi pendidikan karakter berbasis keluarga dan sekolah.

* Senergi ulama, pemerintah,dan aparat penegak hukum dalam pembinaan masyarakat
.
* Literasi digital untuk menangkal hoaks dan propaganda ekstrim.

Penyakit’ masyarakat tidak bisa ditangani secara persial.dibutuhkan gerakan bersama berbasis nilai agama dan pendekatan ilmiah,”tegas salah’ satu peserta forum.

Menjaga keutuhan NKRI: ancaman dari dalam dan luar

Materi kedua menyoroti urgensi menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah dinamika global dan nasional.

Ancaman dari dalam diindentifikasikan meliputi:

* Radikalisme dan intoleransi ber basis agama
* Polarisasi politik yang memecah belah umat
* Penyeberan hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.

Sementara ancaman dari luar mencakup:

* Intervensi ideologi transnasional.
* Perang informasi (information warfare).
* Tekanan geopolitik dan ekonomi global.

Forum menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme bukanlah dua kutub yang bersebrangan.justru.nilai-nilai Islam yang rahmatan Lil alamin menjadi fondasi etika dalam menjaga persatuan bangsa.

Wakil bupati bima dalam sambutanya mengapreasiasi inisiatif FUI Bima Raya yang dinilai strategis dalam memperkuat ketahanan sosial dan spritual masyarakat.ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan ulama sebagai mitra dalam membangun stabilitas daerah.

Camat woha juga menegaskan komitmen pemerintah kecemasan untuk mendukung program pembinaan masyarakat berbasis nilai keagamaan dan kebangsaan.

Rekomendasi strategis

Sebagai hasil musyawarah,forum merumuskan beberapa rekomendasi:

1.pembetukan forum koordinasi ulama dan pemerintah tingkat kecamatan.

2 . penguatan dakwah moderat berbasis kearifan lokal Mbojo.

3 . program pembinaan generasi muda secara berkelanjutan.

4 .peneguhan komitmen bersama menjaga harmonis sosial dan keutuhan NKRI.

Kegiatan mbali Mbojo mantoi menjadi momentum penting konsolidasi moral dan kebangsaan di bima raya.di tengah tantangan jaman yang semakin kompleks, sinergi ulama dan Umara dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas sosial serta mewujudkan masyarakat woha yang religius, berkarakter dan cinta tanah air.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *