Antrian Pasien Gagal Ginjal Capai 100 Orang Perhari RSUD dr Iskak Siapkan Tambahan 45–50 Mesin Hemodialisa.

Jurnal Pilar | Edi Mursid

Tulungagung, Pilarmedianusantara.com – Antrian kebutuhan layanan cuci darah membuat antrean pasien gagal ginjal di RSUD dr. Iskak Tulungagung mencapai sekitar 100 orang setiap harinya.

Merespon. Antrian gagal ginjal ini , pihak rumah sakit berencana menambah puluhan unit mesin hemodialisa guna meningkatkan kapasitas pelayanan. Direktur RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Zuhrotul Aini menjelaskan, saat ini layanan hemodialisa di Tulungagung baru tersedia di tiga fasilitas kesehatan, yakni RSUD dr. Iskak, RS Bhayangkara, dan Rumah Sakit Islam (RSI).

Bacaan Lainnya

Namun, kapasitas yang ada dinilai masih belum mampu melayani secara maksimal tingginya jumlah pasien. Pasalnya di RSUD dr. Iskak, setiap hari melayani sekitar 100 pasien cuci darah dalam sehari.

Untuk RSUD dr Iskak sendiri sementara ketersediaan mesin hanya 35 unit untuk menangani 100 gagal ginjal dalam sehari. Kondisi ini menyebabkan pasien harus bergantian dan menunggu jadwal perawatan.

Di Tulungagung hanya ada tiga rumah sakit yang menyediakan layanan hemodialisa. Di RSUD dr. Iskak sendiri, kami baru memiliki 35 mesin untuk melayani sekitar 100 pasien per hari,” ujar dr. Zuhrotul Aini, Minggu (8/2/2026).

Beliau menambahkan penggunaan satu mesin hemodialisa membutuhkan waktu sekitar 4–5 jam per pasien. Artinya, satu mesin Hemodialisa maksimal hanya bisa digunakan untuk tiga pasien dalam sehari.

Keterbatasan mesin Hemodialisa berdampak pada semakin panjangnya antrean. Menyikapi hal tersebut, manajemen rumah sakit berencana menambah unit mesin hemodialisa secara bertahap. Rencananya, RSUD dr. Iskak akan menambah 45 hingga 50 unit mesin baru guna mempercepat pelayanan dan mengurangi waktu tunggu pasien.

Penambahan fasilitas ini tidak hanya untuk melayani pasien asal Tulungagung, tetapi juga pasien rujukan dari daerah lain. Selain pengadaan mesin, rumah sakit juga harus menyiapkan ruang tambahan serta tenaga medis terlatih.

Bukan hanya menambah mesin, kami juga perlu menyiapkan gedung dan sumber daya manusia. Saat ini sudah ada 17 perawat yang mendaftar pelatihan hemodialisa,” tutup dr. Aini.( dy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *