Warga Woha Keluhkan Tumpukan Sampah, DLH Kabupaten Bima Dinilai Gagal Tangani Masalah

PilarMediaNusantara.com, Woha Bima – Program “Selasa Menyapa” yang digelar di Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, berubah menjadi ajang curhat warga soal masalah sampah yang tak kunjung terselesaikan. Sejumlah warga mengeluhkan tumpukan sampah yang berserakan di berbagai titik, mulai dari area publik hingga permukiman penduduk, bahkan di pusat ibu kota Kabupaten Bima.

Masyarakat menilai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bima gagal memberikan penanganan yang memadai terhadap persoalan persampahan. Sampah-sampah yang menggunung, berbau menyengat, dan mengganggu pemandangan itu dibiarkan begitu saja tanpa tindakan berarti dari pihak terkait.

Salah seorang warga dengan nada kesal mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam menangani masalah ini. “Apa memang Woha ini mau dijadikan ikon destinasi wisata sampah? Sejak 2011 sampai sekarang, masyarakat tidak mendapatkan perubahan berarti,” ungkapnya.

Bacaan Lainnya

Keluhan warga bukan tanpa alasan. Selain merusak estetika kota, tumpukan sampah juga berpotensi menjadi sumber penyakit. Saat musim hujan, sampah-sampah yang menyumbat saluran air bisa menyebabkan banjir, sementara di musim kemarau, aroma tak sedap dan potensi penyebaran penyakit meningkat.

Ironisnya, di tengah masalah yang belum teratasi ini, komisi yang membidangi urusan persampahan di Kabupaten Bima justru mendorong pembangunan Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) di Desa Waduwani. Proyek tersebut digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang, namun warga mempertanyakan mengapa permasalahan sampah di pusat kota hingga kini belum terselesaikan.

“Pemerintah seharusnya fokus dulu pada pengelolaan sampah yang ada sekarang, bukan sekadar membangun fasilitas baru sementara masalah lama dibiarkan,” ujar seorang aktivis lingkungan setempat. Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan dan penegakan aturan terkait pembuangan sampah sembarangan.

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi memprihatinkan. Di beberapa titik di Woha, tumpukan sampah rumah tangga bercampur dengan limbah plastik, dedaunan, dan sisa material bangunan. Tak hanya merusak pemandangan, keberadaan sampah ini juga mengganggu aktivitas warga sekitar. Pedagang kaki lima yang berjualan di dekat tumpukan sampah mengaku mengalami penurunan pembeli karena aroma tak sedap.

Kritik terhadap DLH Kabupaten Bima semakin menguat karena masalah serupa sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Meski berbagai program kebersihan telah diluncurkan, warga menilai pelaksanaannya tidak konsisten dan minim pengawasan.

Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata, mulai dari penambahan armada pengangkut sampah, penempatan tempat sampah di titik strategis, hingga sosialisasi masif kepada masyarakat. Tak kalah penting, penegakan hukum terhadap pelanggar aturan kebersihan perlu dilakukan agar efek jera tercipta.

Masalah sampah di Woha dan sekitarnya kini menjadi perhatian publik. Warga mendesak agar pemerintah Kabupaten Bima tidak hanya mengandalkan proyek besar seperti TPA Waduwani, tetapi juga memperbaiki manajemen persampahan secara menyeluruh.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bima belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan masyarakat dan langkah konkret yang akan diambil. Sementara itu, tumpukan sampah masih menjadi pemandangan sehari-hari yang merusak wajah kota Woha, yang sejatinya berpotensi menjadi daerah yang indah dan nyaman jika dikelola dengan baik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *