Penulis By Indra Jaya, S.T., S.H | Wasekjend IKA Jayabaya
Pilarmedianusantara.com – Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, September 2025 sudah tiba. Dalam keheningan, saya sering tersenyum mengingat perjalanan hidup yang telah saya lalui. Dari seorang anak muda kurus dengan rambut gondrong dan penampilan sederhana, yang kadang dianggap tak terurus, kini saya berdiri menatap perjalanan panjang yang penuh warna.
Kenangan itu masih begitu hidup, saat saya melangkah di pematang sawah di pinggiran Kota Bukittinggi-Sumatera Barat, selepas menyelesaikan pendidikan di STM. Dengan semangat muda, hati saya bergetar ingin melihat dunia yang lebih luas, dengan modal keyakinan akan kesuksesan kehidupan saya merantau ke kota besar demi melanjutkan pendidikan.
Langkah demi langkah membawa saya menembus keramaian ibukota, menyaksikan gemerlap Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya. Tanpa saya sadari, takdir menuntun langkah ini bersandar di sebuah kampus yang kelak menjadi rumah kedua – Universitas Jayabaya. Tahun 1996, saya resmi mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Teknologi Industri.
Perjalanan perkuliahan bukanlah hal mudah. Ada riak dan gelombang, jatuh dan bangun, tawa dan air mata. Namun di balik itu semua, tersimpan begitu banyak cerita: persahabatan, canda tawa bersama kawan, hingga perdebatan kritis yang membentuk cara pandang kami. Saya masih mengingat jelas masa-masa pergerakan mahasiswa 1998, di mana idealisme kami digembleng oleh sejarah. Saat itu, mahasiswa bukan sekadar menuntut ilmu, melainkan menjadi bagian dari suara rakyat, berdiri tegak memperjuangkan reformasi demi kemakmuran bangsa.

Kecintaan terhadap almamater dan kesetiaan terhadap perjuangan terus melekat, menjadi bagian dari jati diri yang tak pernah lekang oleh waktu.
Dan kini, 13 September 2025, sebuah momentum bersejarah kembali terukir: pengukuhan pengurus Ikatan Alumni Jayabaya (IKA Jayabaya) serta peresmian sekretariat baru. Hari itu menjadi saksi bersatunya lintas generasi – alumni dari berbagai angkatan, fakultas, jurusan, hingga pascasarjana dan alumni doktor. Kehadiran pihak rektorat dan yayasan semakin memperkuat harmoni antara mahasiswa, alumni, universitas, dan yayasan.

Inilah yang saya sebut sebagai awal kebangkitan baru Universitas Jayabaya. Sebuah kebangkitan yang mengembalikan roh sejati kampus: melahirkan tokoh-tokoh bangsa, bukan sekadar menjadi penonton sejarah, tetapi selalu hadir dan ikut serta dalam mengukir perjalanan negeri ini.
Tagline “Satu Jayabaya, Seribu Karya” bukan sekadar semboyan. Ia adalah janji, bahwa kebangkitan IKA Jayabaya hari ini bukanlah sekadar perkumpulan seremonial, bukan pula ruang mencari kepentingan pribadi. Lebih dari itu, IKA Jayabaya lahir kembali sebagai pemersatu seluruh alumni, demi kepentingan bersama, demi bangsa, demi karya.
Sebab kita percaya, perjalanan dari pinggiran hingga ke kota bukan hanya kisah pribadi, melainkan kisah kolektif tentang mimpi, perjuangan, dan pengabdian. Dan dari rahim Jayabaya, karya-karya besar untuk Indonesia akan terus lahir.








